DI DALAM gedung berpendingin udara, dengan luas sekira 450 meter persegi, berkumpul 350 pelajar sekolah menengah. Mereka pelajar berasal dari dua SMA, dua SMK dan dua SMP yang semuanya berada di bawah naungan Yayasan Badan Oesaha Pendidikan Kristen Indonesia (BOPKRI) Yogyakarta.
Ratusan siswa itu, duduk bersila lesehan, dengan tikar yang digelar di lantai, bersih mengkilap. Tenang dan tertib. Sejak pukul 09.00 WIB, Kamis 4 Juni 2026, itu mereka sudah bersiap di sana.
Ada agenda khusus rupanya. Ya, mereka hendak mengikuti Sarasehan bertajuk “Ketika Gen Z Mengonstruksi dan Memaknai Pancasila”.
Acara diselenggarakan oleh Perhimpunan Warga Pancasila Pancasila (PWP). Bekerjasama dengan Yayasan BOPKRI. Agenda ini merupakan seri diskusi yang ke-11 yang diselenggarakan PWP. Sekaligus untuk memperingati Hari Lahir Pancasila.
Kali ini menghadirkan tiga narasumber. Mereka adalah Doktor Bambang Kesowo, SH, LLM, , Ganjar Pranowo, SH, M.IP dan seorang mahasiswi Holly Aulia, mewakili generasi Z.
Bambang Kesowo (81) adalah birokrat senior sekretariat negara. Mantan Menteri Sekretaris Negara (2001-2004) di era Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarno Putri.
Sedangkan Ganjar Pranowo (58) adalah mantan Gubernur Jawa Tengah 2013 – 2023. Adapun Holly Aulia (20) adalah mahasiswi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.
Acara berlangsung meriah. Terbangun interaksi narasumber dan peserta yang usianya berkisar 18 tahun tertua dan 13 tahun termuda.
Meski jarak usia narasumber dan peserta terpaut jauh, kecuali Holly, namun materi dan bahasan yang disampaikan, semuanya terasa “nyambung”.
Bambang Kesowo memberi penguatan kepada peserta. Dia katakan, Pancasila tidak perlu dipandang sebagai konsep yang rumit atau untuk dihafalkan. “Esensi Pancasila terletak pada kemampuan manusia memahami sesama dan menghargai perbedaan. Menjaga persatuan dalam keragaman,” tutur anggota Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu.
Ia tambahkan, lima sila dalam Pancasila merupakan satu kesatuan nilai yang mengajarkan manusia untuk berketuhanan, memanusiakan sesama, menjunjung tinggi persatuan, menghadirkan keadilan sosial.
Sebelumnya, Profesor Doktor Nindyo Pramono (72) selaku Pembina PWP, memberi penjelasan kepada para siswa dengan mengatakan bahwa Pancasila adalah warisan terbesar yang dimiliki bangsa Indonesia. Pancasila digali dari nilai-nilai kehidupan rakyat Indonesia. Maka, Indonesia,bsebagai negara kepulauan yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, tetap selalu kuat, tidak runtuh. Dipersatukan oleh Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Prof Nindyo mencontohkan bagaimana negara Yugoslavia yang lebih kecil dari Indonesia, itu kini terpecah belah menjadi beberapa negara.
Di bagian lain, Ganjar Pranowo yang juga alumni SMA BOPKRI 1 (Bosa) Yogyakarta, lulusan 1987, itu menjelaskan bahwa Pancasila memiliki fungsi yang sama dengan fondasi sebuah bangunan, bagi negara Indonesia. Pancasila merupakan dasar yang menopang berdirinya bangsa sekaligus menjaga negara tetap kokoh menghadapi berbagai tantangan.
“Dasar yang kuat untuk sebuah negara, namanya Pancasila,” kata lulusan Fakultas Hukum UGM yang kini menjadi tokoh nasional, pernah mengikuti kontestasi pada Pilpres 2024 itu.
Adapun menurut Holly Aulia, Pancasila bukanlah dokumen sejarah yang kaku maupun teks yang hanya dibaca saat upacara. “Pancasila adalah kompas yang membantu generasi dirinya menghadapi tantangan dunia digital. “Hidup di zaman internet tidak mudah. Setiap hari kita dipapar algoritma yang memicu kecemasan, overthinking, hingga ujaran kebencian. Di situlah Pancasila hadir sebagai kompas,” ujar perempuan asal Jambi, Sumatera Selatan itu.
Tantangan terbesar Generasi Z saat ini, kata Holly, bukan menghafal Pancasila, tapi menjaga nilai kemanusiaan dan kemampuan menerima perbedaan di ruang digital.
“Musuh terbesar Gen Z sekarang bukan lewat fisik, tetapi ego dan ketikan sendiri yang sering lebih cepat daripada otak,” katanya.
Setelah paparan narasumber, sarasehan yang dimulai pukul 10.00 WIB itu, dilanjutkan dengan diskusi. Ada yang bertanya. Ada juga siswa yang memberi pernyataan dan pendapat atas isu aktual yang terjadi di negeri ini, termasuk nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus melemah “Wah, hebat ini, ada yang sudah memperhatikan soal deforestasi, climate change dan ekonomi. Terus belajar dan asah kemampuan, wujudkan cita-cita kalian semua,” ujar Ganjar Pranowo pada sesi dialog dengan para siswa.
Demikianlah. Di dalam lapangan basket indoor premium SMA Bosa yang diresmikan Maret 2025, itu telah berlangsung sebuah momen istimewa. Estafet dari para senior kepada generasi penerus dalam memaknai Pancasila. Kini “tutur sembur”, berbagi pengalaman, itu telah diberikan, kemudian akan dilanjutkan oleh generasi Z, demi tegaknya NKRI berdasar Pancasila.
Memeriahkan sarasehan, para siswa menyuguhkan beberapa tampilan kesenian. Ada tarian Bali, geguritan, baca puisi juga paduan suara. Seluruh rangkaian acara berakhir pukul 12.30 WIB. (awd)
Diskusi PWP Seri ke-11:
Sarasehan Generasi Z Memaknai Pancasila
DI DALAM gedung berpendingin udara, dengan luas sekira 450 meter persegi, berkumpul 350 pelajar sekolah menengah. Mereka pelajar berasal dari dua SMA, dua SMK dan dua SMP yang semuanya berada di bawah naungan Yayasan Badan Oesaha Pendidikan Kristen Indonesia (BOPKRI) Yogyakarta.
Ratusan siswa itu, duduk bersila lesehan, dengan tikar yang digelar di lantai, bersih mengkilap. Tenang dan tertib. Sejak pukul 09.00 WIB, Kamis 4 Juni 2026, itu mereka sudah bersiap di sana.
Ada agenda khusus rupanya. Ya, mereka hendak mengikuti Sarasehan bertajuk “Ketika Gen Z Mengonstruksi dan Memaknai Pancasila”.
Acara diselenggarakan oleh Perhimpunan Warga Pancasila Pancasila (PWP). Bekerjasama dengan Yayasan BOPKRI. Agenda ini merupakan seri diskusi yang ke-11 yang diselenggarakan PWP. Sekaligus untuk memperingati Hari Lahir Pancasila.
Kali ini menghadirkan tiga narasumber. Mereka adalah Doktor Bambang Kesowo, SH, LLM, , Ganjar Pranowo, SH, M.IP dan seorang mahasiswi Holly Aulia, mewakili generasi Z.
Bambang Kesowo (81) adalah birokrat senior sekretariat negara. Mantan Menteri Sekretaris Negara (2001-2004) di era Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarno Putri.
Sedangkan Ganjar Pranowo (58) adalah mantan Gubernur Jawa Tengah 2013 – 2023. Adapun Holly Aulia (20) adalah mahasiswi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.
Acara berlangsung meriah. Terbangun interaksi narasumber dan peserta yang usianya berkisar 18 tahun tertua dan 13 tahun termuda.
Meski jarak usia narasumber dan peserta terpaut jauh, kecuali Holly, namun materi dan bahasan yang disampaikan, semuanya terasa “nyambung”.
Bambang Kesowo memberi penguatan kepada peserta. Dia katakan, Pancasila tidak perlu dipandang sebagai konsep yang rumit atau untuk dihafalkan. “Esensi Pancasila terletak pada kemampuan manusia memahami sesama dan menghargai perbedaan. Menjaga persatuan dalam keragaman,” tutur anggota Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu.
Ia tambahkan, lima sila dalam Pancasila merupakan satu kesatuan nilai yang mengajarkan manusia untuk berketuhanan, memanusiakan sesama, menjunjung tinggi persatuan, menghadirkan keadilan sosial.
Sebelumnya, Profesor Doktor Nindyo Pramono (72) selaku Pembina PWP, memberi penjelasan kepada para siswa dengan mengatakan bahwa Pancasila adalah warisan terbesar yang dimiliki bangsa Indonesia. Pancasila digali dari nilai-nilai kehidupan rakyat Indonesia. Maka, Indonesia,bsebagai negara kepulauan yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, tetap selalu kuat, tidak runtuh. Dipersatukan oleh Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Prof Nindyo mencontohkan bagaimana negara Yugoslavia yang lebih kecil dari Indonesia, itu kini terpecah belah menjadi beberapa negara.
Di bagian lain, Ganjar Pranowo yang juga alumni SMA BOPKRI 1 (Bosa) Yogyakarta, lulusan 1987, itu menjelaskan bahwa Pancasila memiliki fungsi yang sama dengan fondasi sebuah bangunan, bagi negara Indonesia. Pancasila merupakan dasar yang menopang berdirinya bangsa sekaligus menjaga negara tetap kokoh menghadapi berbagai tantangan.
“Dasar yang kuat untuk sebuah negara, namanya Pancasila,” kata lulusan Fakultas Hukum UGM yang kini menjadi tokoh nasional, pernah mengikuti kontestasi pada Pilpres 2024 itu.
Adapun menurut Holly Aulia, Pancasila bukanlah dokumen sejarah yang kaku maupun teks yang hanya dibaca saat upacara. “Pancasila adalah kompas yang membantu generasi dirinya menghadapi tantangan dunia digital. “Hidup di zaman internet tidak mudah. Setiap hari kita dipapar algoritma yang memicu kecemasan, overthinking, hingga ujaran kebencian. Di situlah Pancasila hadir sebagai kompas,” ujar perempuan asal Jambi, Sumatera Selatan itu.
Tantangan terbesar Generasi Z saat ini, kata Holly, bukan menghafal Pancasila, tapi menjaga nilai kemanusiaan dan kemampuan menerima perbedaan di ruang digital.
“Musuh terbesar Gen Z sekarang bukan lewat fisik, tetapi ego dan ketikan sendiri yang sering lebih cepat daripada otak,” katanya.
Setelah paparan narasumber, sarasehan yang dimulai pukul 10.00 WIB itu, dilanjutkan dengan diskusi. Ada yang bertanya. Ada juga siswa yang memberi pernyataan dan pendapat atas isu aktual yang terjadi di negeri ini, termasuk nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus melemah “Wah, hebat ini, ada yang sudah memperhatikan soal deforestasi, climate change dan ekonomi. Terus belajar dan asah kemampuan, wujudkan cita-cita kalian semua,” ujar Ganjar Pranowo pada sesi dialog dengan para siswa.
Demikianlah. Di dalam lapangan basket indoor premium SMA Bosa yang diresmikan Maret 2025, itu telah berlangsung sebuah momen istimewa. Estafet dari para senior kepada generasi penerus dalam memaknai Pancasila. Kini “tutur sembur”, berbagi pengalaman, itu telah diberikan, kemudian akan dilanjutkan oleh generasi Z, demi tegaknya NKRI berdasar Pancasila.
Memeriahkan sarasehan, para siswa menyuguhkan beberapa tampilan kesenian. Ada tarian Bali, geguritan, baca puisi juga paduan suara. Seluruh rangkaian acara berakhir pukul 12.30 WIB. (awd)







Tinggalkan Balasan