Agoes Tony Widhartono
HARI Minggu (21/12) pagi, seperti biasa Gereja Kristen Jawa (GKJ) Gondokusuman Yogyakarta, mengadakan kebaktian mingguan. Tapi, kali ini sedikit berbeda. Selain kebaktian pukul 09.00 WIB itu menggunakan Bahasa Jawa, juga ada tamu istimewa di tengah jemaat gereja. Mereka berjumlah 25 orang. Semuanya mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Solusi Bisnis Indonesia (STIE SBI) Yogyakarta, yang mayoritas keyakinan agama Islam.
Para tamu itu duduk takzim di kursi deretan terdepan, persis di bawah mimbar gereja. Berbusana hitam, mengenakan stola batik. Sedangkan pendeta dan petugas ibadah semuanya mengenakan busana tradisional Jawa. Puji-pujian dilantunkan dalam Bahasa Jawa. Nuansa budaya terasa kental. Menyatu dengan ritus keagamaan yang telah dijalani gereja yang kini berusia 112 tahun itu. Kebaktian dalam bahasa Jawa, dimulai pukul 09.00 WIB, dipimpin oleh Pendeta (Em) David Rubingan. Sang pendeta menyapa dari mimbar para tamunya. Dia berharap, para tamunya bisa menikmati prosesi ritual ibadah, pagi itu, dengan nyaman.
Para tamu yang rata-rata berusia 19-21 tahun, itu mengikuti prosesi ibadah dengan khidmat, sebagai pembelajar. Duduk takzim bersama lebih dari 400 jemaat, di dalam gedung gereja berkapasitas temapt duduk 800 orang.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari mata kuliah Pendidikan Agama dengan tema keberagaman beragama. Mahasiswa dikawal langsung oleh pimpinan kampus, Doktor Saifudin Zuhri, yang sejak awal berkomitmen menghadirkan pendidikan multikultural secara nyata.
“Kami tidak ingin toleransi hanya berhenti di teori, dihafalkan di ruang kuliah,” ujar Saifudin dalam dialog bersama mahasiswa dan pengelola gereja. “Kami ingin mahasiswa hadir dengan mata kepala, membawa tubuh, perasaan, dan pikirannya. Menyaksikan langsung. Ia menegaskan, pengalaman ini bukan sekadar kunjungan simbolik. Mahasiswa diminta menyerap, merasakan, dan kelak merefleksikan sendiri nilai yang mereka temui. Kampus tidak mendikte kesimpulan, melainkan membuka ruang pengalaman. Ia juga menyampaikan rasa bahagia dan tersanjung atas sambutan yang diberikan GKJ Gondokusuman.
Mayoritas mahasiswa STIE SBI yang hadir pagi itu, adalah pemeluk agama Islam. Namun justru melalui perjumpaan itulah, Saifudin Zuhri menginginkan agar mahasiswa menyentuh langsung pengalaman berjumpa dengan saudara sebangsa yang memeluk agama lain. Hari itu, mereka menyaksikan umat Kristen beribadah, yang kebetulan menggunakan bahasa Jawa. “Mestinya ajaran kasih dipraktikkan seperti ini. Semuanya ini saudara sebangsa.” Ia berencana membawa mahasiswa mengunjungi berbagai tempat ibadah agama lain, demi nilai multikulturalisme tumbuh melalui penghayatan langsung.
Teori
Menurut Saifudin Zuhri, selama ini mungkin kebersamaan dan toleransi hanya dikenal di teori. “Sekarang para mahasiswa kami, merasakan langsung betapa indahnya sebuah keragaman.” Kunjungan ini akan ditindaklanjuti sebagai bagian dari tugas perkuliahan. Mahasiswa dipersilakan mengambil insight masing-masing, tanpa didikte kesimpulan apa pun. Nilai itu diharapkan tumbuh di hati nurani, pikiran, dan perasaan mereka sendiri.
Di bagian lain, pada sesi dialog di aula gereja, seusai kebaktian, Pendeta Siswadi dari GKJ Gondokusuman, menjelaskan, GKJ Gondokusuman berdiri sejak 23 November 1913 dan kini telah berusia 112 tahun. Gereja tersebut berakar pada tradisi Jawa. Meski dalam perjalanan sejarahnya tidak selalu ramah terhadap budaya lokal. Ia mengisahkan bagaimana pada masa awal penyebaran Kristen di Jawa, orang Kristen Jawa kerap dipaksa meninggalkan budayanya oleh misionaris Belanda. “Kami tidak anti budaya Jawa,” tegas Siswadi. Di GKJ Gondokusuman, ibadah kerap diiringi gamelan, lengkap. Para wiyaga adalah jemaat gereja. Bahkan pelatihnya seorang muslim. Anak-anak sekolah minggu berlatih bermain alat musik angklung dengan pelatih perempua, juga seorang Muslimah, yang mengenakan jilbab. Gereja juga membuka komisi bea siswa bagi anak-anak dari tingkat sekolah dasar (SD) hingga perguruan tinggi. Tidak terbatas bagi anggota gereja saja, tetapi juga warga sekitar.
Menurut Pendeta Siswadi, dalam setiap perayaan undhuh-undhuh yang digelar bersama Kelurahan Klitren sejak 2019 setahun sekali, menjadi contoh nyata bagaimana gereja hadir sebagai bagian dari komunitas sosial, melibatkan pedagang, warga, dan sumber daya lokal dalam satu perayaan bersama.
Ketua Komisi Adiyuswa GKJ Gondokusuman, Doktor Fonali Lahagu, menambahkan, upaya menghidupkan kembali ibadah berbahasa Jawa hingga kini terus dikembangkan. Sejak 2023, nuansa Jawa diperkuat melalui busana, paduan suara, karawitan, macapat, hingga fragmen seni. Jumlah jemaat yang mengikuti ibadah berbahasa Jawa pun terus bertambah seiring waktu. Generasi muda mulai kembali akrab dengan bahasa serta filosofi Jawa.
Refleksi
Bagi seorang mahasiswa STIE SBI, Dimas Farhan Herwitra, agenda pagi itu berbekas dalam lubuk hatinya. Ia katakan, dirinya membawa pulang pengalaman yang tidak ditemukan di buku ajar mana pun. Sebagai seorang muslim, memasuki gereja untuk pertama kali bukan perkara sederhana. Ada rasa ragu, canggung, bahkan ada bayangan-bayangan yang selama ini hidup di kepala. Namun semua itu luruh begitu ia melangkah masuk dan disambut dengan keramahtamahan. “Ada rasa lega,” katanya pelan. “Saya merasa diterima.”
Baginya, belajar di ruang seperti itu menghadirkan makna lain sebuah pendidikan. Bukan sekadar memahami konsep toleransi. Tetapi mengalami secara langsung. Melihat, merasakan, dan berjumpa. Apa yang selama ini hanya menjadi teori di ruang kelas, menjelma menjadi pengalaman yang hidup. Ia tidak mengatakan bahwa pandangannya tentang pendidikan formal berubah. Tetapi ada sesuatu yang bertambah: cara memandang gereja, orang-orang di dalamnya, dan cinta kasih yang hadir tanpa syarat. “Yang paling berkesan, saya menyadari bahwa gereja bukan tempat yang menakutkan. Gereja adalah tempat yang nyaman, dengan jemaat yang terbuka dan penuh cinta kasih,” tuturnya.
Di titik itulah pembelajaran menemukan bentuknya yang paling utuh. Ketika toleransi tidak lagi didefinisikan, melainkan dipraktikkan. Ketika keberagaman tidak hanya dibicarakan, tetapi dihidupi. Dan ketika pendidikan benar-benar menghadirkan manusia dengan tubuhnya, perasaannya, dan keberaniannya untuk saling menyapa. (***)

Tinggalkan Balasan